Teori Belajar

Rekan guru yang berbahagia, mungkin sedang cari teori belajar untuk UKG mungkin perlu ini, silakan dibaca dan diunduh atau dicopy:

TEORI BELAJAR

Sebelum mengenal beberapa teori belajar, mari kita ingat kembali beberapa istilah berikut ini :

  1. Belajar adalah suatu proses untuk mendapatkan pengetahuan/pengalaman sehingga mampu mengubah tingkah laku manusia dan tingkah laku ini menjadi tetap/tidak akan berubah lagi dengan modifikasi yang sama ( Herman, 1977 hal 273 dalam Herman ,1981 hal 2 ).
  2. Memori adalah daya mengingat untuk dapat menyebutkan kembali pengalaman – pengalaman yang lampau secara singkat ( herman,1981 hal 2 ).

Beberapa contoh teori belajar yang pernah muncul, yaitu :

  1. TEORI BELAJAR DARI PSIKOLOGI TINGKAH LAKU

( Psikologi Stimulus-Respon )

Bahwa tingkah laku dikendalikan oleh peristiwa lingkungan berupa ganjaran yang datang dari luar diri manusia dan disebut dengan penguatan, sedang antara stimulus dan respon itu saling berhubungan. Guru pengikut teori ini bertanggung jawab untuk mengolah lingkungan siswa ( stimulus ) sehingga memungkinkan tingkah lakunya menjadi benar/sempurna secara maksimal ( respon ). Tingkah laku siswa tersebut dianalisa untuk mengadakan penguatan dan perluasan modifikasi tingkah laku.

  1. TEORI BELAJAR DARI THORNDIKE

( Koneksionisme )

 Hukum Efek atau Ganjaran

Menurut Thorndike, belajar adalah suatu proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, hubungan ini akan semakin kuat bila sering dilatih. Jika hubungan yang terjadi antara suatu situasi dan suatu respon diikuti oleh peristiwa yang cocok, maka hubungan akan semakin kuat. Hukum efek mengarah kepada ganjaran nyata, misal nilai yang dicantumkan pada kertas ulangan.

Hukum Latihan

Semakin sering stimulus dan respon dipergunakan, maka makin kuat hubungan yang terjadi. Hukum latihan mengarah kepada banyaknya latihan dan drill. Latihan tanpa ganjaran tidak efektif. Jika stimulus dan respon terjadi serempak, disebut kontiguisi. Guru memegang peran utama pada proses belajar siswa. Guru pengikut teori ini sering mengadakan latihan dan menentukan apa saja yang harus dipelajari oleh siswa. Guru menganggap bahwa asosiasi yang kuat antara pertanyaan dan jawaban akan lebih lama diingat.

Ahli yang sependapat dengan teori ini adalah : Ivan Pavlov ( 1849-1936 ), John B Watson ( 1878-1958 ), ER Guthrie ( 1886-1959 ).

Hasil eksperimen Watson, bahwa sikap negatif siswa pada pelajaran tertentu terjadi karena siswa tersebut mengasosiasikan pelajaran itu sebagai hal yang tidak menyenangkan, dan akan melakukan generalisasi ketakutannya tersebut.

  1. TEORI BELAJAR DARI SKINNER

(Teori dari Burrhus Frederic Skinner )

Ganjaran atau penguatan diperlukan dalam belajar. Penguatan positif yaitu jika penyajian stimulus yang mengiringi tingkah laku siswa cenderung apat meningkatkan pengulangan tingkah laku siswa menjadi diperkuat. Misal ganjaran berupa pujian ( kepada siswa yang berhasil menyelesaikan suatu tugas dengan baik ), dan nilai jelek atau muka cemberut ( kepada siswa yang kurang bagus dalam menyelesaikan tugas ). Pujian memperkuat siswa menjadi lebih baik, sedang muka cemberut dan nilai jelek memperkuat siswa menjadi lebih bungkam. Penguatan negatif yaitu jika stimulus yang dihapuskan justru dapat menguatkan tingkah laku. Misal menghilangkan suara gaduh/berisik. Skinner berpendapat bahwa proses belajar merupakan operant conditioning ( operan berkondisi ), yaitu situasi belajar yang memungkinkan suatu respon dibuat lebih sering sebagai hasil penguatan langsung. Operan berkondisi dapat mendorong terjadinya operant learning ( operan belajar ). Guru dapat memberikan penguatan dengan cara :

  1. Memberikan penguatan segera, jangan ditunda – tunda.
  2. Memberikan penguatan pada setiap respon yang benar saja, untuk kegiatan awal pembelajaran.
  3. Jangan memeberikan penguatan tingkah laku pada hal – hal yang tidak dikehendaki.

Komponen penting dari wawasan tingkah laku adalah :

  1. Obyektif yang dinyatakan dalam terminologi tingkah laku.
  2. Tugas dibagi menjadi beberapa bagian atau materi prasarat.
  3. Penentuan urutan materi prasarat sesuai urutan logis dari materi yang akan dipelajari.
  4. Ada perencanaan materi dan prosedur mengajar untuk tiap tugas.
  5. Pemberian balikan kepada siswa dari tugas bagian yang mendukung pencapaian obyektif – obyektif.

Seorang guru harus sudah mengetahui keterampilan apa saja yang sudah dimiliki siswa sebelum memulai pembelajaran.

  1. TEORI BELAJAR DARI GAGNE

( Teori dari Robert Gagne )

Hirarki Gagne meliputi 8 tipe belajar, yaitu :

  1. Belajar Isyarat ( Signal Learning )

Signal learning adalah belajar tanpa kesengajaan yang dihasilkan dari sejumlah stimulus ulangan atau stimulus tunggal yang akan menimbulkan suatu respon emosional dalam pribadi siswa yang bersangkutan. Guru sebaiknya berusaha membuat stimulus – stimulus yang tidak disengaja untuk membangkitkan emosi yang menyenangkan bagi siswa, sehingga dapat mengurangi sikap acuh tak acuh siswa pada suatu pelajaran tertentu.

  1. Belajar Stimulus-Respon ( Stimulus-Respon Learning )

Belajar isyarat tanpa kesengajaan dan emosional, sedangkan belajar stimulus-respon disengaja dan secara fisik. Stimulus dari luar menyebabkan stimulus otot dari dalam membentuk suatau respon yang terkait. Belajar ini meliputi : operant conditioning ( Trial and error ), kontiguisi dan latihan. Belajar diibaratkan seperti seekor anjing yang dapat berjabat tangan.

  1. Rangkaian ( Chaining )

Beberapa stimulus-respon dirangkaikan agar siswa dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Misal membuat preparat jaringan batang jagung muda dan melihat jaringannya dengan menggunakan mikroskop.

  1. Asosiasi verbal ( Verbal Assosiation )

Siswa perlu menyertakan ide dan argumen yang rasional dalam belajar. Guru seharusnya membantu mengembangkan asosiasi verbal siswa dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan fakta, definisi, konsep dan prinsip secara benar dan teliti ( Herman, 1979 ).

  1. Belajar diskriminasi ( Discrimination Learning )

Macam diskrikinasi : diskriminasi tunggal dan diskriminasi lipat ganda. Contoh diskriminasi tunggal yaitu pengamatan beberapa daun yang bertulang sejajar, sedang pengamatan beberapa daun dengan tulang daun sejajar, melengkung, menyirip dan menjari merupakan contoh diskriminasi lipat ganda. Kejadian yang termasuk dalam diskriminasi lipat ganda diantaranya :

  • Penyamarataan

Penyamarataan yaitu kecenderungan siswa untuk mengelompokkan sekumpulan rangkaian yang serupa, meskipun menurut aturan – aturan tertentu rangkaian – rangkaian tersebut berbeda dan sulit untuk dirangkai. Jika tidak diberikan penguatan maka akan terjadi penghapusan rangkaian itu. Contoh : PR yang tidak diperiksa dapat menghapuskan respon benar dan memunculkan respon tidak benar dalam respon benar. Oleh karenanya perlu balikan langsung dari guru.

  • Gangguan

Gangguan seperti lupa dapat muncul karena adanya stimulus-respon baru atau berinteraksinya stimulus-respon baru dengan lama. Contoh gangguan : siswa akan kesulitan memahami konsep jika diberikan hafalan istilah – istilah yang menyertai pembelajaran.

    

  1. Belajar konsep ( Concept Learning )

Belajar konsep yaitu belajar memahami persamaan sifat dari benda-benda atau peristiwa konkrit untuk dikelompokkan menjadi satu kelas. Belajar konsep berlawanan dengan belajar diskriminasi. Jika belajar diskriminasi membedakan obyek menurut karakteristik yang berbeda, sedang belajar konsep mengklasifikasikan atau mengelompokkan obyek dalam kelompok dengan karakteristik yang sama. Syarat belajar konsep : siswa menguasai prasyarat, asosiasi verbal yang cocok dan diskriminasi lipat ganda. Untuk mengajarkan konsep baru perlu memperhatikan hal-hal berikut ;

  • Menyajikan contoh-contoh yang bervariasi dan tidak serupa agar memudahkan generalisasi. Contoh : menyajikan beberapa hewan-hewan mamalia, jangan seluruh hewan mamalia disebutkan.
  • Memberikan konsep berbeda yang berkaitan agar memudahkan pendiskriminasian. Contoh : menyajikan beberapa hewan-hewan mamalia, aves, reptilia, ampibia dan pisces.
  • Menyajikan bukan contoh konsep agar memudahkan diskriminasi dan generalisasi. Contoh : menyejikan hewan avertebrata dan vertebrata agar memudahkan dalam klasifikasi hewan-hewan tersebut.
  • Hindarkan contoh konsep yang memiliki karakteristik sama yang mengganggu klasifikasi dan arti konsep itu sendiri. Contoh : menyajikan hewan-hewan mamalia di daratan, mamalia di air, mamalia terbang, mamalia bertelur dan mamalia berbelalai agar dapat memahami konsep tentang ciri-ciri hewan mamalia dengan benar.

  1. Belajar Aturan ( Rule Learning )

Belajar aturan adalah belajar yang memungkinkan siswa atau peserta didik mengkaitkan dua tau lebih konsep. Contoh : konsep respirasi mengkaitkan konsep tentang inspirasi, ekspirasi, difusi O2 dan CO2, pembakaran zat makanan dalam mitokondria serta pernapasan anaerob.

  1. Pemecahan Masalah ( Problem Solving )

Pemecahan masalah merupakan penggabungan dua atau lebih aturan yang dikombinasikan agar terbentuk formulasi aturan baru bagi siswa dalam memecahkan masalah.

Delapan tipe belajar tersebut masing-masing meliputi empat fase, yaitu :

  1. Fase pengertian

Fase belajar yang pertama ini mengantarkan siswa mengerti karakteristik sekumpulan stimulus yang diberikan, dan siswa bertanggung jawab terhadap cara belajarnya sendiri.

  1. Fase perolehan

Pada fase ini siswa memperoleh atau memproses fakta, keterampilan, konsep dan prinsip yang sedang dipelajari.

  1. Fase penyimpanan

Pengetahuan dan pengalaman baru yang diperoleh harus disimpan dan diingat, meliputi dua macam memori yaitu :


        

  • Memori jangka pendek, kemampuannya terbatas dalam menyimpan informasi. Contoh : arah jalan pada perempatan jalan yang akan segera lupa setelah kita berjalan jauh pada sebuah ruas jalan.
  • Memori jangka panjang, kemampuan lebih lama dalam menyimpan dan mengingat informasi.
  1. Fase pengungkapan kembali

Fase yang meliputi kemampuan siswa dalam mengungkapkan kembali informasi yang telah diperoleh dan disimpan.

Guru mengajar dapat menggabungkan lebih dari satu tipe belajar. Oleh karenanya guru dituntut untuk dapat membuat persiapan mengajar dengan baik, seperti menyiapkan strategi mengajar yang sesuai dengan konsep yang akan diajarkan, membuat analisa tugas siswa yang sesuai agar siswa mampu belajar sesuatu yang baru setelah siswa itu dapat menguasai kemampuan-kemampuan tertentu.

 

  1. TEORI BELAJAR DARI PSIKOLOGI KOGNITIF

 

Asumsi dasar dari ahli bahwa tingkah laku seseorang didasarkan kepada kognisi atau kegiatan untuk mengetahui dan berpikir tentang situasi penyebab tingkah laku terjadi. Pendapat ahli psikologi Lewin : suatu obyek benda yang secara fisik dekat bukan merupakan bagian seseorang yang tidak sadar akan keberadaan obyek dan tidak dipengaruhi oleh obyek itu. Teori studi kognitif : bahwa tingkah laku belajar adalah pengorganisasian atau penstrukturan kembali, manusia belajar mengamati secara keseluruhan dulu kemudian dianalisa dan disentesakan kembali. Ahli psikologi kognitif seperti Jean Piaget, Zoltan P. Dienes, Jerome Bruner, David Ausubel dan J. P. Guilford.

  1. TEORI BELAJAR DARI PIAGET

Sebelum mengenal teori psikologi kognitif, perlu diingat kembali tahap-tahap berpikir menurut Piaget, yaitu :

  1. Tahap sensori-motor                ( sekitar 0 – 2 tahun )
  2. Tahap pra-operasional             ( sekitar 2 – 7 tahun )
  3. Tahap operasional konkrit       ( sekitar 7 – 11 tahun )
  4. Tahap operasional formal        ( 11 tahun ke atas )

Menurut Piaget, perkembangan intelektual sebagai suatu proses asimilasi dan akomodasi terhadap informasi ke dalam struktur mental. Asimilasi merupakan proses menyatukan informasi dan pengalaman baru ke dalam struktur mental. Akomodasi adalah proses menstrukturkan kembali pikiran sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru. Kedua proses tersebut melibatkan interaksi antara pikiran dan kenyataan. Oleh karenanya proses belajar tidak sekedar menempelkan informasi baru pada informasi sebelumnya yang telah dimiliki, melainkan memodifikasi informasi tersebut dengan cara asimilasi dan akomodasi.

      

        

Guru perlu memperhatikan tahap berpikir siswa sebelum mengajar. Sebagai contoh untuk siswa SMP umumnya baru mencapai tahap transisi antara tahap konkrit dan formal. Pada tahap ini siswa belum mampu menguasai aksioma-aksioma ( kenyataan ) dan definisi-definisi, sehingga jika dalam belajar diberikan suatu permasalahan siswa cenderung hanya akan menghafalkan istilah-istilah yang ada. Oleh karenanya guru perlu menyederhanakan istilah dalam pembelajaran agar konsep yang dipelajari dapat maksimal dipahami siswa. Guru harus tepat memilih metode mengajar.

Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan intelektual, yaitu :

  1. Kematangan yang merupakan pertumbuhan psikologis dari sistem syaraf dan pengalaman- pengalaman yang diperoleh dalam pengembangan intelektual. Macam pengalaman :
    • Pengalaman fisik, hasil dari interaksi individu dengan lingkungannya.
    • Pengalaman logika matematika, merupakan kegiatan mental perorangan yang struktur kognitifnya disusun kembali sesuai pengalamannya.
  2. Transmisi sosial atau interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain. Proses operasi formal tidak akan berkembang dengan baik dalam pikiran seseorang jika tidak ada pertukaran dan koordinasi pendapat di antara orang – orang.
  3. Penyetimbangan saat berkurangnya stabilitas seseorang sebagai akibat pengalaman – pengalaman baru sebelum adanya asimilasi dan akomodasi. Hasil penyetimbangan adalah berkembangnya struktur mental sehingga menjadi lebih matang.

Hasil penelitian Piaget menyebutkan, pembelajaran yang baik untuk bertukar pikiran, kerja sama dan bekerja sendiri dalam melaksanakan kegiatan adalah di dalam laboratorium. Di laboratorium ini siswa mengenal obyek konkrit ( nyata ) lebih dahulu baru kemudian diabstraksikan. Selain sains, matematika juga memerlukan laboratorium.

  1. TEORI BELAJAR DARI BRUNER

( Teori dari Jerome Bruner )

Menurut Bruner, anak mengalami perkembangan tiga tahap yaitu :

  1. Tahap enactive

Pada tahap ini anak-anak memanipulasi obyaek-obyek secara langsung

  1. Tahap ikonic

Kegiatan anak-anak pada tahap ini tidak memanipulasi obyek secara langsung, tetapi berkenaan dengan mental yang merupakan gambaran dari obyek-obyek.

  1. Tahap simbolik

Anak langsung memanipulasi simbol – simbol dan tidak berkaitan sama sekali dengan obyek-obyek.

Ada empat teorema umum tentang belajar dari Bruner, yaitu :

  1. Teorema konstruksi ( Construction Theorem )

Cara terbaik siswa dalam memulai belajar konsep, prinsip atau aturan adalah dengan mengkonstruksi konsep, prinsip atau aturan itu. Idea-idea yang muncul dapat dikonstruksi sendiri, dan dirumuskan dengan bantuan benda-benda konkrit. Cara ini membuat idea-idea itu lebih mudah diingat dan dapat diaplikasikan pada situasi yang tepat. Pada tahap permulaan belajar konsep pengertian muncul dan bergantung kepada aktifitas-aktifitas konkrit. Memori dapat dicapai dengan memanipulasi benda-benda konkrit, bukan penguatan seperti pendapat Skinner.

  1. Teorema notasi ( Notation Theorem )

Konstruksi permulaan dibuat lebih sederhana secara kognitif dan dapat mudah dimengerti siswa jika konstruksi itu menurut notasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Pendekatan ini termasuk pendekatan spiral, yaitu pendekatan yang memperkenalkan idea-idea secara intuitif dan menyajikannya dengan menggunakan bentuk notasi yang sudah dikenal. Dengan sistem notasi ini memungkinkan pengembangan idea-idea berupa prinsip dan mengkreasikan prinsip tersebut. Contoh : Sebelum mempelajari tentang muai ruang, siswa seharusnya mengkonstruksi lebih dahulu tentang pengukuran panjang, perubahan panjang, koefisien muai panjang, rumus muai panjang, volume, perubahan volume dan koefisien muai ruang, baru kemudian mengkonstruksi rumus muai ruang.

  1. Teorema kekontrasan dan variasi ( Contrast and Variation Theorem )

Belajar konsep dari yang konkrit ke abstrak harus menyertakan pertentangan dan variasi, agar tidak terjadi salah pengertian bahwa konsep yang dipelajari hanyalah konsep yang dicontohkan oleh guru. Contoh : dalam mempelajari tentang monohibrid, sebaiknya diberikan contoh bukan hanya tentang kacang ercis melainkan diberikan contoh yang variatif seperti tentang bunga pukul empat ( sifat intermediet ), golongan darah ( sifat terpaut pada gen lain ), penyakit haemofilia ( sifat terpaut pada kromosom seks X ) dan sebagainya.

  1. Teorema konektifitas ( Connectivity Theorem )

Belajar tentang konsep, struktur dan keterampilan dihubungkan dengan konsep, struktur dan keterampilan yang lain. Kesadaran ini perlu dikembangkan dalam belajar dan pengembangannya.

      

Menurut Bruner, peranan aktif siswa dapat terjadi dalam proses belajar bila menggunakan belajar penemuan. Sebagai hasil menemukan keterangan atau ketidak teraturan materi bahasan yang dipelajari, maka siswa dapat lebih mengorganisasikan masalah-masalah dari pada hanya sekedar belajar dengan stimulus-respon. Rasa puas dari proses belajar semacam ini merupakan ganjaran dari “dalam”, berbeda dengan ganjaran dari “luar” yang hanya menyebabkan belajar hafalan dan dengan pengertian yang sangat sedikit.

Bruner membedakan teori belajar dengan teori perkembangan intelektual. Teori belajar merupakan diskripsi dari apa yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Teori perkembangan intelektual ( menurut Piaget ) melukiskan tahap-tahap berpikir melalui perkembangan mental dan mengidentifikasi aktifitas mental yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh seseorang.

  1. TEORI BELAJAR DARI DIENES

( Teori dari Zoltan P. Dienes )

Dienes seorang matematikawan, mengembangkan teorinya berdasar teori psikologi belajar Piaget. Sependapat denganteori Bruner bahwa setiap konsep atau prinsip dapat sempurna jika pertama disajikan kepada siswa dalam bentuk konkrit. Semua abstraksi didasarkan kepada intuisi dan pengalaman-pengalaman konkrit, sehingga sangat penting memanipulasi obyek dalam bentuk permainan yang dilaksanakan dalam laboratorium ( bahkan untuk matematika ).

  1. Tahap-tahap di dalam belajar konsep-konsep.

Dienes menyebutkan enam tahap dalam mengajar, yaitu :

  • Permainan bebas ( Free play )

Permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktifitas tidak terstruktur dan tidak diarahkan yang memungkinkan mengadakan eksperimen serta memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur konsep yang dipelajari. Pada tahap ini siswa membentuk struktur mental dan sikap untuk mempersiapkan diri memahami konsep.

  • Permainan yang disertai aturan ( Games )

Permainan yang disertai aturan adalah tahap yang memungkinkan siswa mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam suatu konsep. Aturan dalam suatu konsep belum tentu dapat diterapkan pada konsep yang lain. Setelah memahami aturan-aturan itu, siswa memainkan permainan dengan aturan dari guru atau dirinya sendiri.

  • Permainan kesamaan sifat ( Searching for communalities )

Setelah siswa dapat memainkan permainan dengan aturan-aturan tertentu, siswa perlu dibantu dalam mencari kesamaan struktur agar dapat mentranslasikan ke dalam permainan yang lain. Pada permainan baru sifat-sifat abstrak tidak berubah.

  

    

  • Representasi ( Representation )

Representasi merupakan pengambilan kesamaan dari situasi-situasi yang serupa. Cara ini dapat mengarahkan siswa mencapai pengertian struktur yang abstrak.

  • Simbolisasi ( Symbolization )

Tahap ini memungkinkan siswa merumuskan representasi dari setiap konsep dengan menggunakan symbol atau dengan merumuskan secara verbal yang sesuai.

  • Formalisasi ( Formalization )

Pada tahap ini siswa mengurutkan konsep-konsep menjadi sifat baru dengan suatu pembuktian, yaitu berawal dari aksioma ( kenyataan ) ke arah teorema.

Enam tahap tadi berlangsung secara urut, dapat digabungkan dan dapat pula sebagian ditiadakan dalam suatu kegiatan permainan.

  1. Empat prinsip umum dalam mengajar, yaitu :
    • Prinsip dinamis

Permainan yang digunakan dalam belajar dimulai dari hal konkrit baru kemudian ke abstrak.

  • Prinsip konstruktifitas

Konstruksi permainan harus lebih dahulu sebelum analisa.

  • Prinsip Variabilitas persepsi atau prinsip representasi lipat ganda

Struktur konsep yang sama dapat disajikan sebanyak mungkin persepsi yang setara.

  • Prinsip Variabilitas ( Matematika )

Setiap konsep ( matematika ) melibatkan variabel-variabel yang esensial perlu divariasikan agar generalisasi ( matematika ) dapat tercapai.

  1. TEORI BELAJAR VERBAL BERMAKNA DARI AUSUBEL

( Teori dari David Ausubel )

Teori belajar verbal bermakna memuat prosedur mengajar dengan modus pemberitahuan yang efektif yang menghasilkan belajar bermakna. Belajar bermakna terjadi apabila informasi yang diperoleh disusun sesuai dengan struktur kognitif siswa, sehingga siswa dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang telah dimiliki. Oleh karenanya memori akan lebih kuat dan transfer belajar lebih mudah tercapai. Proses menghafal berlawanan dengan belajar bermakna, karena menghafal hanya sekedar mengingat fakta-fakta tanpa mengaitkannya dengan struktur kognitif yang telah ada.

Tipe belajar menurut Ausubel :

  1. Belajar dengan modus penemuan yang bermakna

Informasi yang akan dipelajari ditentukan sepenuhnya oleh siswa secara bebas, agar pengetahuan baru itu dapat dihubungkan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki.

      

  1. Belajar dengan modus pemberitahuan yang bermakna

Informasi yang telah disusun secara logis disajikan kepada siswa dalam bentuk final, kemudian siswa menghubungkannya dengan struktur kognitif yang telah dimiliki.

  1. Belajar dengan modus penemuan yang bersifat hafalan

Informasi yang diperoleh ditentukan secara bebas oleh siswa dan menghafalkannya tanpa harus tahu pengertiannya.

  1. Belajar dengan modus pemberitahuan yang bersifat hafalan

Semua informasi dari masing-masing tipe disajikan kepada siswa dalam bentuk final, kemudian siswa menghafalkannya tanpa harus mengetahui pengertiannya.

Pendapat Ausubel berbeda sedikit dengan Bruner. Menurut Ausubel bahwa belajar dengan modus menemukan saja tanpa pemberitahuan tidak akan menyebabkan integrasi pengetahuan baru itu dan tidaklah urut serta utuh. Menurutnya, “menemukan” tidak menjamin peningkatan motivasi dalam diri siswa. Banyaknya pengetahuan baru yang dapat dipelajari tergantung kepada informasi yang telah diketahui ( struktur kognitif ). Bahan pelajaran seharusnya disusun sesuai struktur kognitif siswa.

Belajar dengan modus pemberitahuan yang bermakna memiliki prasyarat :

  1. Kondisi dan sikap siswa terhadap tugas hendaknya sesuai dengan interaksi siswa. Belajar menjadi bermakna apabila :
    • Siswa ingin memahami nahan pelajaran
    • Siswa ingin mengaplikasikan bahan baru
    • Siswa menghubungkan bahan pelajaran dengan yang terdahulu.
  2. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus sesuai struktur kognitif siswa, sehingga dapat mengasimilasi bahan baru dengan cara yang bermakna. Siswa tidak menghafal asosiasi stimulus-respon secara terpisah-pisah.
  3. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus sesuai tahap perkembangan intelektual siswa. Jika siswa baru mencapai tahap operasional konkrit atau transisi antara operasional konkrit dan formal, janganlah diberikan konsep yang abstrak semua. Hal ini perlu diperhatikan agar siswa tidak sekedar belajar menghafal ( pernyataan verbal ) saja tanpa tahu pengertiannya.

  1. TEORI GUILFORD ( STRUKTUR INTELEK GUILFORD )

( Teori dari J.P. Guilford )

Kategori kemampuan mental digambarkan dengan model struktur intelek, yaitu :

PRODUK

ISI

 

 

Produk Divergen
Produk Konvergen
 

 

Evaluasi
 

 

Kognisi
 

 

Memori

OPERASI

Gambar. Struktur Intelek menurut Guilford

Keterangan :

  1. Operasi adalah proses mental pada saat belajar. Ada lima tipe operasi, yaitu :
    • Memori ( memory )

Memori yaitu kemampuan untuk menyimpan informasi yang telah diperoleh dan mengemukakannya dalam bentuk stimulus-stimulus tertentu.

  • Kognisi ( cognition )

Kognisi adalah kemampuan untuyk mengenal dan mengerti bermacam-macam bentuk informasi.

  • Evaluasi ( evaluation )

Evaluasi adalah kemampuan memproses informasi untuk membuat perkiraan, kesimpulan dan keputusan yang tepat.

  • Produk konvergen ( convergent production )

Produk konvergen adlah kemampuan mengambil kesimpulan yang paling benar berdasarkan informasi yang telah diketahui.

  • Produk divergen ( divergent production ).

Produk divergen adalah kemampuan memberikan alasan yang lain dari alasan yang telah diberikan terhadap informasi yang telah diketahui.

Guru yang telah memahami operasi ini dapat memberikan pengarahan kepada siswanya dengan benar.

  1. Isi belajar adalah bahan yang dipelajari. Ada empat tipe isi, yaitu :
    • Isi figural, menyangkut bentuk-bentuk benda
    • Isi simbol, menyangkut tanda-tanda yang berhubungan dengan obyek-obyek konkrit dan abstrak.
    • Isi semantik, menyangkut kata-kata atau ide yang menimbulkan suatu pengertian bila ide atau kata-kata itu dimunculkan sebagai suatu stimulus.
    • Isi tingkah laku, menyangkut manifestasi stimulus-respon seperti penampilan seseorang sebagi akibat tindakan orang lain.

Guru yang memahami variasi siswa dalam menerima bahan pelajaran yang dipelajari, maka akan mengetahui cara siswa belajar dengan baik.

  1. Produk belajar adalah cara mengidentifikasi dan mengorganisasikan informasi di dalam pikiran. Ada enam hasil belajar, yaitu :
    • Satuan, yaitu simbol tunggal yang berupa gambar, kata, obyek atau ide.
    • Kelas, yaitu himpunan satuan
    • Relasi, yaitu hubungan antara satuan dan kelas
    • Sistem, yaitu komposisi satuan, kelas dan relasi ke dalam suatu struktur yang lebih luas dan lebih berarti
    • Transformasi, yaitu proses memodifikasi, menginterpretasi kembali dan menyusun kembali informasi-informasi yang ada menjadi informasi baru.
    • Implikasi, yaitu dugaan sebagai akibat interaksi antara satuan, kelas, relasi, sistem dan transformasi. Contoh : sebuah teorema.

Masing-masing siswa memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan dalam mempelajari pada tingkatan hasil belajar tertentu. Oleh karena itu guru mengajar tidak harus dengan cara yang sama pada siswa yang berbeda.

Penerapan teori Guilford, seperti :

  • Guru harus menyadari bahwa kemampuan siswa itu berbeda, sehingga penampilan siswa juga berbeda.
  • Guru harus mengamati penguasaan konsep masing-masing siswa agar dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan diri siswa tersebut.
  • Guru memberikan tugas sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga siswa dapat menggunakan kekuatan inteleknya dan mengubah kelemahan inteleknya menjadai lebih kuat.
  • Guru emberikan bantuan terhadap kebutuhan siswa secara serasi, karena siswa pandai dapat menemukan kesulitan menyelesaikan tugas-tugas tertentu, sedang siswa yang tes intelegensinya rendah justru dapat menyelesaikannya.

Akhir kata, semoga pengetahuan tentang teori belajar ini dapat membantu guru-guru dalam mempersiapkan pengajaran, melakukan aktifitas mengajar dan dalam melakukan evaluasi belajar. Amiin.

Daftar Pustaka

Hudojo Herman, 1981, TEORI BELAJAR UNTUK PENGAJARAN MATEMATIKA, P3G Depdikbud, Jakarta

Sulistyono T, 2003, WAWASAN PENDIDIKAN, Direktorat PLP Dirjendikdasmen Depdiknas, Jakarta

Iklan

Tentang sub14han

Saya Guru Seni Budaya SMP Negeri 14 Depok
Pos ini dipublikasikan di UKG. Tandai permalink.

2 Balasan ke Teori Belajar

  1. Rohim S.Pd.I berkata:

    thank ya pak kisi-kisinya membantu untuk ukg ntar giliran saya tgl 17 nov 2015

Komentar ditutup.